Tugas
Makalah
Kewaspadaan, Perjuangan dan
Kedermawanan
Dosen pengampu
Dra. Nurain Kamaludin, M.Ag
Oleh
Kelompok XII :
1.
Mulyaser kunup
NIM :
17.138.009
2.
Ariyandi Sifati
NIM : 17.138.014
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
TERNATE
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
TADRIS MATEMATIKA
2019/2020
KATA PENGANTAR
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام
عليكم ورحمةالله وبركاته.....!!!
Puji
dan Syukur kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Pengusa segala kerajaan
seluruh alam di langit dan bumi, Shalawat dan Salam tetap tercurah kepada
Rasullallah Muhammad SAW.
Kewaspadaan,
Perjuangan, dan Kedermawanan adalah makalah yang penulis angkat sebagai bahan
pemenuh program mata kuliah Hadits Tarbawi, tema yang diambil adalah tema yang
disesuaikan dengan pilihan yang jamak diberikan di semester V.
Penulis
sampaikan rasa terima kasih yang sangat luas kepada Kepada Ibu selaku dosen
pembimbing mata kuliah Hadits Tarbawi yang sudah menyempatkan waktunya untuk
membimbing kami supaya mengerti ilmu Hadits Tarbawi Ini.
Semoga
makalah ini bermanfaat, Penulis memohon ridho serta berkah dari Allah, kami
meminta maaf dan terimaksih dari pemerhati serta saran dan kritik kami
nantikan.
Ternate,
28 September 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................
v
DAFTAR ISI............................................................................................................. vi
DAFTAR ISI............................................................................................................. vi
BAB I PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang...............................................................................................
1
2.
Rumusan Masalah..........................................................................................
3
3. Tujuan............................................................................................................
3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Kewaspadaan
1.
Pengertian
kewaspadaan................................................................................ 4
2.
Keutamaan waspada...................................................................................... 5
B.
Perjuangan
(Jihad)
1.
Pengertian jihad............................................................................................. 7
2.
Pengungkapan
Jihad dalam Al-Qur’an dan Hadits....................................... 8
3.
Tujuan dan
Fungsi Jihad................................................................................ 10
C.
Kedermawanan
1.
Pengertian
Dermawan.................................................................................... 18
2.
Keutamaan
Kedermawanan........................................................................... 20
3. Karakteristik
Kedermawanan........................................................................ 21
BAB III PENUTUP
1.
Kesimpulan.................................................................................................... 22
2. Saran.............................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Salah satu sikap yang patut untuk dijaga adalah
kehati-hatian atau waspada. Setidaknya ada 12 ayat yang mengajarkan kepada
manusia agar selalu mengembangkan sikap waspada, yang dalam Al-Qur’an
diistilahkan dengan kata al-hadzar (Mawas diri).
Sikap kewaspadaan
merupakan salah satu ciri dari orang yang ulil albab, sebuah predikat yang
ditujukan bagi mereka yang memiliki intelektualitas dan ketakwaan yang baik. Hal
ini diungkap Al-Qur’an: (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung)
ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia waspada (takut dan cemas) (kepada (azab) akhirat dan mengharapkan
rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang
dapat menerima pelajaran (QS. Az-Zumar:9).
Dalam salah satu hadits riwayat dari at-Tirmidzi
dan an- Nasai bahwa suatu hari Rasulullah SAW melayat seorang yang akan
meninggal dunia. Saat itu beliau bertanya kepada orang itu, “bagaimana kamu
mendapatkan dirimu sekarang? Orang tersebut menjawab, “Aku dalam keadaan harap
dan cemas. Lalu Raslulullah SAW bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ
كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ
السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ
وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu
rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya
melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat,
akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi
makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)
Diantara
perintah Allah yang dengan tegas dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Hadits
disamping Syahadat, Shalat, Shaum, Zakat dan Haji adalah Perintah Jihad. Jihad
dalam Al-Qur’an dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu
menegakan agama Allah agar tetap tegak, dengan cara sesuai garis perjuangan
yang termasuk dalam Al-Qur’an dan Hadits. Banyak sekali ayat-ayat dalam
Al-Qur’an maupun Hadits yang mengandung maksud perjuangan (Jihad). Misalnya
firman Allah SWT :
فَلَاتُطِعِ
الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَدًاكَبِيرًا [الفرن52/]
“ maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan
berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an dengan Jihad yang besar (QS.
Al-furqan [25] : 52)[1]
Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai
dengan apa berjihad? Menurut Ibn „Abbas, konotasi makna jihad dalam ayat itu
adalah dengan “al-Qur‟an”, menurut Ibn Zayd dengan “Islam”, dan ada juga yang
berpendapat dengan “pedang”. Namun al-Qurthubi menolak keras pendapat terakhir
“jihad dengan pedang”, karena ayat ini turun di Makkah, sebelum turun perintah
perang. Sedangkan makna “jihad yang besar, menurut al-Zamakhsyari mencakup
segala bentuk perjuangan (jāmiʻan likulli mujāhadah).[2]
Islam adalah rahmat bagi umat Islam, itulah yang keluar dari benak kita
ketika kita berbicara agama Islam. Akan tetapi Islam tidak lebih sempurna
menjadirahmat bagi umat ketika kita sebagai umat Islam tidak memelihara dan
menjalankan ajaran agama islam. Hidup didunia tidaklah sendirian, oleh karena
itu di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, begitu banyak yang menjelaskan tentang
hubungan sesama manusia (Muamalah), seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an dan
hadits yang mengajarkan kita untuk selalu menjaga perbuatan dan perkataan agar
bisa berhubungan baik dengan sesama manusia lainnya yaitu dengan cara kita
siling tolong-menolong, saling pengertian (Memahami), Toleransi dan juga selalu
bersikap dermawan.
Dengan adanya sebab sifat-sifat diatas, Nilai Agama akan terasa lebih
sempurna menjadi rahmat bagi umat Islam itu sendiri maupun umat yang lainnya.
2. Rumusan Masalah
Bagaimana pendengar dan pembaca agar dapat memahami arti
penting kewaspadaan, perjuangan dan kedermawanan dalam Islam ?
3. Tujuan
·
Menjelaskan materi mengenai tentang kewaspadaan,
perjuangan (Jihad) dan Kedermawanan.
·
Menerapkan sikap dermawan terhadap sesama mahluk sosial.
·
Memahami konsep-konsep islam tentang kedermawanan,
perjungan dan kewaspadaan dalam perspektif hadits.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Kewaspadaan
1. Pengertian
kewaspadaan
Kewaspadaan secara sederhana dimaknai sebagai
awas atau mawas diri terhadap tantangan, godaan, dan ancaman dari
luar maupun kekurangan dari dalam diri. Orang dapat kurang atau tidak
waspada karena angkuh, merasa cukup diri, takabur dengan kekuatan dirinya
sehingga lupa bahwa di sekitarnya terdapat banyak hal yang
tak terduga daripada yang dapat diperkirakan.
Melitansi setinggi apapun bila tidak disertai kewaspadaan dalam menunaikan
sebuah tugas, boleh jadi menjadi ajang kehancuran. Allah
mengingatkan:
{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ
تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (92)
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا
إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا
وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}
[المائدة: 92، 93]
“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu
kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah! Jika kamu berpaling, maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan
(amanat Allah) dengan terang. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah
mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan
amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman,
kemudian mereka (tetap juga) bertakwa
dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.” (Q.S. al-Mâidah, ayat 92-93).
2. Keutamaan waspada
Terdapat empat keutamaan
waspada sebagai berikut :
a) Akan meraih ketenangan
Sebagaimana disebutkan saat
dibacakan surat Al-Kahfi. Disebutan oleh Al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata,
بَيْنَمَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ، وَفَرَسٌ لَهُ مَرْبُوطٌ فِى
الدَّارِ ، فَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَخَرَجَ الرَّجُلُ فَنَظَرَ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا
، وَجَعَلَ يَنْفِرُ ، فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله
عليه وسلم – فَقَالَ « تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »
“Ada seseorang yang sedang membaca (surat
Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda
tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak
melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari,
peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, lantas
beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.”
(HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795).
Imam
Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan
keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya
malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar
Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74).
b)
Akan dinaungi Rahmat Allah
Dalam Al-Qur’an juga disebutkan,
إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada
orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Dalam hadits Salman, ada yang berdzikir pada Allah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat ketika itu, beliau pun bersabda,
“
مَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ ؟ فَإِنِّي رَأَيْتُ الرَّحْمَةَ
تَنْزِلُ عَلَيْكُمْ ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُشَارِكَكُمْ فِيْهَا
“Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat
rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam
majelis semacam itu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122.
Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).
c) Malaikat
akan mengelilingi majelis ilmu
Tanda bahwasanya malaikat ridha dan suka pada orang-orang yang
berada dalam majelis ilmu.
وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ
أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
“Sesungguhnya malaikat meletakkan
sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu
Majah, no. 223; At-Tirmidzi, no. 2682. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa
sanad hadits ini dha’if. Sedangkan Syaikh Al-Albani
menshahihkan hadits ini). Maksudnya, para malaikat benar-benar menghormati para
penuntut ilmu. Atau maksudnya pula malaikat turun dan ikut dalam majelis ilmu. (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 493)
d) Akan disebut
oleh Allah di sisi mahluk-mahluk mulia
Coba kalau kita di dunia ini disanjung-sanjung di hadapan
presiden atau tokok terkemuka, kita pasti merasa seperti berada di atas. Pujian
bagi penuntut ilmu lebih dari itu. Karena mereka disanjung-sanjung di hadapan
makhluk yang mulia.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
Allah Ta’ala berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى
وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِى فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى
نَفْسِى وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٍ مِنْهُ
“Aku sesuai dengan persangkaan
hamba-Ku pada-Ku. Aku bersamanya kala ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku
dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di
suatu kumpulan, maka aku akan menyebut-nyebutnya di kumpulan yang lebih baik
daripada itu.” (HR. Muslim, no. 2675)
Tak inginkah kita mendapatkan ketenangan jiwa dan keutamaan
seperti dikemukakan dalam hadits di atas. Cobalah meraihnya dalam majelis ilmu
syar’i, bukan pada majelis warung kopi, bukan majelis yang penuh dengan kesia-siaan.
B. Perjuangan (Jihad)
1. Pengertian
jihad
Secara Etimologi (bahasa), kata jihad berasal dari bahasa
Arab yang tersusun dari akar kata dari tiga huruf yaitu jim (ج), ha (ه) dan dal (د). pada awalnya
mengandung arti kesulitan, kesukaran atau yang mirip dengannya[3].
Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata juhd yang berarti
kemampuan. Ini karena jihat menuntut kemampuan, dan harus dilakuakn sebesar
kemampuan. Dari kata yang sama tersusun ucapan jahida bir rajul yang
artinya seseorang sedang mengalami ujian. [4] Hans
wehr dalam A Dictionary of Modern Written Arabic mengartikan Jihad sebagai
Perjuangan, pertempuran, perang suci (melawan musuh-musuh sebagai kewajiaban
agama) in English said that fight,
battle, holy war (againts the infidles as a relegious duty)’[5]
Sedangkan secara terminologi (istilah) adalah berusaha
sekuat tenaga untuk menumpas orang-orang yang tertutup hatinya untuk menerima
ajaran Allah SWT. Atau pendurhaka-Nya.[6]
Berdasrkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
makna Jihad adalah tidak hanya perjuangan fisik melawan musuh-musuh yang tampak
seperti melawan oarang-orang kafir, melawan orang-orang munafik atau melawan
orang-orang yang telah berbuat zalim, tetapi lebih jauh dari makna itu, seperti
melakukan perlawanan terhadap musuh-musuh yang tidak tampak, misalnya melawan
hawa nafsu yang selalu mengajak kepada hal-hal merusak martabat kemanusiaan dan
melawan kebodohan yang dapat menghambat perkembangan intelektual.
2. Pengungkapan
Jihad dalam Al-Qur’an dan Hadits
Didalam Al-Qur’an Jihad terulang sebanyak 40 kali dengan
berbagai macam bentuknya dari kata al-juhd hanya dijumpai sekali dalam
Al-Qur’an yaitu dalam Al-Qur’an surat at-taubat : 79, sedangkan dari kata al-jahd
ditemukan lima kali masing masing dalam Al-Qur’an suarat al-maidah : 53, al-
an’am : 109, al-Nahl : 38, al-Nur : 53 dan surat al-fathir : 42. Kesemuannya
berbicara tentang konteks sumpah yang baik, dan sumpah yang benar maupun sumpah
yang bohong. Akan tetapi , ayat-ayat tersebut memberikan petunjuk tentang
kesungguhan pelakunya didalam bersumpah walaupun belum tentu benar.[7]
Sedangkan dalam hadits banyak sekali hadits-hadits yang
menunjukan adannya variasi-variasi bentuk jihad yang diakui dalam Islam dengan
sabda-sabda Nabi. Misalnya dalam hadits berikut :
Saudaraku, berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah
jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak
mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.
Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ
هَوَاهُ
“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad
(berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih
diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).
Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim
ketika menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan
memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami” (Al-Ankabut: 69).
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini Allah
mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah
yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri
sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.
Siapa yang menjihadi empat perkara
ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan
keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan
hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.
Al-Junaid berkata, “(Maknanya) Dan
orang orang yang menjihad di hawa nafsunya di jalan Kami dengan
cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan
ikhlas.
Fawaidul fawaid, hal.177 -Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi
musuhnya yang batin. Barang siapa
yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang
lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan
oleh musuhnya yang lahiriyah.”
3. Tujuan
dan Fungsi Jihad
Di
antara tujuan jihad yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an adalah:
1. Menghilangkan seluruh bentuk kesyirikan dan menjadikan ketaatan
hanya kepada Allah.
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan
(sehingga) agama itu hanya semata-mata untuk Allah. (Al-Anfal: 39)
Fitnah
yang dimaksudkan adalah kesyirikan, sedangkan maksud ‘yang tersisa hanyalah
agama Allah’ adalah mewujudkan ketaatan seluruhnya kepada Allah, baik dengan
bentuk masuknya orang-orang musyrik ke dalam agama Islam atau mereka tunduk di
bawah hukum Islam.
2. Sebagai jalan untuk meninggikan kalimatullah dan merendahkan
seruan orang-orang kafir
“Dan
Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir adalah yang paling rendah, sedangkan
kalimat Allah itulah yang paling tinggi, dan Allah itu Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (At -Taubah: 40)
3.
Sebagai jalan untuk menolong agama Allah dan mewujudkan pertolongan-Nya.
“Jika
kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu.” [Muhammad: 7]
“Sesungguhnya
Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (Al Hajj : 40)
4.
Sebagai upaya untuk menghilangkan kerusakan di muka bumi
“Seandainya
Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,
pasti rusaklah bumi ini.” (QS. Al-Baqarah: 251)
5.
Untuk menolak kezaliman orang-orang zalim
“Telah
diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya
mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong
mereka itu.” (Al-Hajj: 39)
6.
Untuk menolong kaum muslimin yang lemah
“Mengapa
kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah
baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan
kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan
berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi
Engkau!'” (An-Nisa’ :75)
7.
Untuk menyampaikan hidayah kepada manusia dan memudahkan mereka untuk masuk
Islam
“Apabila
telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk
agama Allah dengan berbondong-bondong.” (An-Nashr : 1-2)
8.
Agar Allah mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bersabar
“Apakah
kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum
mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara
kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (Ali Imran: 142)
9.
Sebagai jalan bagi Allah untuk memilih para syuhada
“…Dan
supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan
supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang zalim.”( Ali Imran: 140)
10.
Untuk mencapai kekuasaan (khilafah) bagi kaum muslimin di muka bumi sehingga
syi’ar-syi’ar Islam bisa tegak seluruhnya
“(yaitu)
orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang
benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah’. Dan
sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang
lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah
ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama
Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.* (yaitu)
orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya
mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala
urusan.” (Al-Hajj: 40-41)
“Dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka
berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa…” (An-Nuur: 55)
11.
Untuk mewujudkan syariat amar ma’ruf nahi mungkar
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Dan
jihad adalah tingkatan amar ma’ruf dan nahi mungkar yang paling tinggi.
12.
Untuk menghilangkan kebencian kaum muslimin dan sebagai obat penyejuk hati
mereka.
“…Serta
melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati
orang-orang mukmin….” (At-Taubah: 14-15)
13.
Untuk mengangkat derajat kaum muslimin di dunia dan akhirat
“…Allah
melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala
yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang
yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya,
ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(An-Nisa’: 95-96)
14.
Agar selamat dari azab kubur dan hari pembalasan sehingga bisa mencapai surga.
“Hai
orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?, (yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di
dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang
lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat
(waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”
(As-Shaf: 10-13)
15.
Untuk menunjukkan kaum muslimin kepada jalan yang lurus
“Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
16.
Untuk mendapatkan rezeki dan ghanimah.
“Serta
harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Maha Perkasa lagi
Maha Penyayang.” (Al-Fath: 19)
17.
Untuk mengharap rahmat Allah
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Al-Baqarah: 128)
18.
Untuk menyelamatkan jiwa dari kehancuran
“Dan
belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan….” (Al-Baqarah: 195)
19. Untuk
menjelaskan hakikat orang-orang munafik dan mereka orang-orang memiliki
penyakit dalam hatinya dalam menaati syariat
“Maka
apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya
(perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya
memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan
kecelakaanlah bagi mereka.” (Muhammad: 20)
“Dan
apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu),
‘Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya’, niscaya
orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak
berjihad) dan mereka berkata, ‘Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang
duduk’.” (At-Taubah: 86)
20.
Untuk menakut-nakuti orang-orang musyrik, orang kafir dan munafik
“Jika
kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang
di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil
pelajaran.” (Al-Anfal: 57)
“…..(yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang
selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah
mengetahuinya….”(Al-Anfal: 60)
21. Sebagai
bentuk balasan dan azab bagi orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka
lakukan
“Katakanlah,
‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua
kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu
azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami…’.” (At-Taubah:
52)
“Perangilah
mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu
dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta
melegakan hati orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 14)
22.
Untuk menghentikan kekuatan orang kafir
“…..Kobarkanlah
semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan
orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan
(Nya).” (An-Nisa: 84)
23.
Untuk membinasakan orang-orang musyrik dan menghancurkan kekuatan mereka
“Untuk
membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka
hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.”(Ali-Imran: 125).
“Sampai
mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
(At-Taubah: 20)
Demikianlah
sebagian tujuan jihad yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Karena tujuan
tersebutlah Allah menurunkan syariat jihad. Bagi siapa pun yang mengemban misi
tersebut, agar lebih bisa memperhatikan kembali maksud dan tujuan Allah
menurunkan syariat tersebut.
Jihad
tidak hanya diperintahkan untuk membunuh orang-orang kafir atau menghancurkan
kekuatan mereka. Namun selain itu, jihad memiliki tujuan-tujuan yang suci
lainnya, yaitu untuk menunjukkan jalan hidayah kepada manusia, mewujudkan
kemakmuran, menghilangkan kezaliman, memberi kabar gembira kepada kaum
muslimin, dan lain sebagainya sebagaimana tersebut di atas. Tentunya semua itu
bisa terwujud dengan sempurna dalam bingkai pemerintahan Islam, yaitu khilafah.
C. Kedermawanan
1. Pengertian
Dermawan
Menurut kamus bahasa indonesia, dermawan
diartikan sebagai pemurah hati atau orang yang suka berderma (beramal dan
bersedekah), sedangkan menurut istilah dermawan bisa diartikan memberikan
sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan
dengan senang hati tanpa keterpaksaan dan ikhlas (tanpa adanya imbalan). Orang
yang dermwan tak akan susah dalam hidupnya di karnakan karma alam seperti dalam
syair ketika anda menginginkan orang lain berbuat baik pada kita, maka anda
harus bersikap baik pada orang lain, bergitu pula sebaliknya.
Oleh karena
itu di dalam hadits disebutkan :
عَن ابْن عُمَرَ رَضِىَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ
وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفَّفُ وَالْمَسْئَلَةَ : اَلْيَدُ الْعُلْيَا
خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفَلَى فَالْيَدُ لْعُلْيَا هِىَ الْمُنْفِقَةُ
وَالسُّفْلَى هِىَ السَّائِلَةُ (رواه البخارى ومسلم).
“Dari Ibnu Umar
r.a. berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda sedangkan dia berada di atas mimbar
dan menyebut sedekah dan meminta-minta, maka Nabi bersabda: Tangan yang di atas
lebih baik daripada tangan yang di bawah, tangan yang di atas itu yang memberi
dan tangan yang di bawah itu yang meminta. (H.R Bukhari Muslim)”.
Sabda Nabi di atas secara mudah dapat di pahami bahwa
orang yang memberikan suatu manfaat bagi orang lain lebih utama daripada orang
yang menerima manfaat dari orang lain. Di dalam kaidah syair dikatakan
bahwa kebajikan yang bersifat sosial itu lebih utama daripada kebajikan yang
bersifat individual. Sangatlah jelas orang yang dermawan merupakan kebajikan
yang bersifat sosial, sehingga dalam kehidupan bermasyarakat akan damai,
bahagia, dan harta yang disedekahkan akan mendapat ganti yang berlipat ganda
dari-Nya.
Allah sudah berjanji apabila seseorang berdermawan atau
bersedekah, maka Allah SWT akan menggantinya, seperti firman Allah yang
tercantum dalam Al-Qur’an :
وَمَآاَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ
يَخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ. (السباء ـ 39)
“Dan barang
apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi
rezeki yang sebaik-baiknya” (Q.S Saba’ : 39)."
Oleh karena itu bisa kita pahami bahwa agama islam
sangat menganjurkan kepada manusia untuk memiliki kepedulian terhadap sesama(
bersikap dermawan ), terutama kepada orang sedang membutuhkan bantuan. Di
karnakan orang yang sebaik-baiknya adalah orang yang bermanfaat bagi orang
lain, seperti yang tertera pada sebuah hadits,
Rasulullah SAW bersabda :
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ
لِلنَّاسِ
Hadist di atas menunjukan bahwa Rasullullah menganjurkan
umat islam selalau berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk yang lain. Hal
ini menjadi indikator bagaimana menjadi mukmin yang sebenarnya. Eksistensi
manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia
berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang
lainnya.
2. Keutamaan
Kedermawanan
1. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda,
''Harta tidak akan berkurang dengan disedekahkan, dan Imam An-Nawawi
menjelaskan, bahwa hadis ini mengandung dua pengertian. Pertama, sedekah itu
diberkahi (di dunia) dan karenanya ia terhindar dari kemudharatan. Dan kedua,
pahalanya tidak akan berkurang di akhirat, bahkan dilipatgandakan hingga
kelipatan yang banyak.
Hadits yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'alaih juga menjelaskan : Nabi SAW
bersabda : "Sesungguhnya Allah itu Maha Pemurah. Dia mencintai kemurahan. Dan mencintai akhlak mulia
serta membenci akhlak yang buruk."
2. Dapat mencegah murka Allah,
Semua orang pasti ingin hidup berkecukupan atau
bahkan kaya. Namun, banyak yang keliru duga, ia mengira bahwa perbuatan kikir
akan mangantarkannya menjadi seorang yang kaya raya. Padahal, itu logika setan
saja.
''Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan
dan menyuruh berbuat kejahatan (kikir), sedangkan Allah menjadikan untukmu
ampunan daripada-Nya dan karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.''(QS.Al-Baqarah [2]: 268).
3. Dapat menghapus dosa dan diselamatkan dari
api neraka.
Sabda Rasulullah saw dalam hadits riwayat Ibnu Abbas ra:
تَجَافَوْا
عَنْ ذَنْبِ السَّخِيِّ فَاِنَّ اللهَ آخِذٌ بِيَدِهِ كُلَّمَا عَثَرَ
“Menyingkirlah kamu sekalian dari dosa orang
yang dermawan, karena sesungguhnya Allah akan membimbing tangannya setiap kali
dia jatuh”.
4. Akan diberi kemudahan dari segala
persoalan hidup yang dihadapinya
3. Karakteristik
Kedermawanan
a. Memberi tanpa mengharapkan imbalan
Seseorang yang benar-benar dermawan tidak
akan pernah mengharapkan sedikitpun imbalan setelah dia membantu orang lain.
b.
Tidak mengharapkan
pujian (Riya’)
Seseorang yang dermawan
ketika menyumbang, mereka tidak perlu di sebut-sebut jumlah
sumbangannya, agar dipuji oleh orang lain karena kebaikan yang telah ia
lakukan kepada orang lain yang membutuhkan bantuan.
c. Memiliki perhatian besar terhadap orang yang menderita
Seseorang yang dermawan selalu. memberikan
perhatian terhadap orang yang membutuhkan bantuan tanpa harus ada yang
menyuruh, karena hatinya secara otomatis akan tergerak untuk membantu.
d. seseorang yang dermawan ringan saat mengeluarkan dan
mambelanjakan hartanya dijalan yang diridhai Allah.
BAB
III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dermawan merupakan salah satu sifat terpuji yang harus
dimiliki oleh seorang mukmin, karena dermawan adalah perbuatan yang
mencerminkan hubungan antar manusia yang baik, akan tetapi tidak juga
mengesampingkan hubungan kita dengan Allah.
Kedermawanan merupakan salah satu cara yang dapat
dilakukan untuk melatih seseorang dalam mengatur harta yang dimiliki dengan
menyisihkan hartanya dan memberikannya kepada orang lain yang benar-benar
membutuhkan. Sifat dermawan yang dimiliki seseorang akan membantu mengurangi
kesenjangan yang ada, antara si kaya dan si miskin. Karena didalam perbuatan
dermawan yang dilakukan tidak hanya memberikan seseatu yang dimiliki secara
ikhlas tetapi juga adanya hubunagn atau silaturahmi yang baik antara penderma
dan yang menerimanya.
2.
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah yang dibuat masih banyak
kekurangan sehingga diharapkan bagi pembaca agar memberikan komentar dan saran
untuk melengkapi kekurangan penulis dalam mengetik makalah ini. Semoga makalah
yang dibuat ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan penulis, Aamiin !!!
DAFTAR PUSTAKA
M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia al-Qur’an; Kajian
Kosa Kata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm 395-396
Abu al Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam
Muqayīs al-Lughah, Juz. 1 (Bairut: Dar al Fikr, 1994), hlm. 487. Lihat
Louis Mahfud, al-Munjid fi al- Lughah, (Cet. XVIII, Bairut: Dar al-
Maghrib, 1984), hlm. 106. Lihat juga S. Askar, Kamus Arab-Indonesia,
(Jakarta, Senayan Publishung, 2009), hlm. 76.
M. Quraish
Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudu’i Atas Belbagai Persoalan Umat, Cet.
I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 284.
Hens Wehr, A
Dictionary of Modern Written Arabic, J. Milton Cowan (ed.), New York:
spoken Language Services inc.,1976, hlm 142.
Ahsin W.
Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Amzah, 2005)., hlm.138.
Fawaidul
fawaid, hal.177
Syafe’i
Rachmat. 2003. Al-Hadis Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum. Bandung:CV
Pustaka Setia.
Juwariyah. 2010. Hadis Tarbawi. Yogyakarta:Teras. Halaman 86
[1] Tim penyusun, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (jakarta : Yayasan
penyelenggara penterjemah, 2012), hlm. 509.
[2] Moh. Guntur Romli dan A Fawaid
Sjadzili, dari jihad menuju ijtihad, (Jakarta : LSIP 2004), hlm.9.
[3] Abu al Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya,
Mu’jam Muqayīs al-Lughah, Juz. 1 (Bairut: Dar al Fikr, 1994), hlm. 487. Lihat Louis
Mahfud, al-Munjid fi al- Lughah, (Cet. XVIII, Bairut: Dar al- Maghrib, 1984),
hlm. 106. Lihat juga S. Askar, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta, Senayan
Publishung, 2009), hlm. 76.
[4]
M. Quraish
Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudu’i Atas Belbagai Persoalan Umat, Cet. I,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 284.
[5] Hens Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, J. Milton Cowan
(ed.), New York: spoken Language Services inc.,1976, hlm 142.
[6] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Amzah, 2005).,
hlm.138.
[7] M. Quraish Shihab dkk, Ensiklopedia al-Qur’an; Kajian Kosa Kata, (Jakarta:
Lentera Hati, 2007), hlm 395-396

Komentar
Posting Komentar